Selasa, 22 Januari 2013

Psycholinguistics


Apa itu Psikolinguistik? Ilmu tentang factor psikologikal dan neurobiological yang mampu mempengaruhi manusia, digunakan dan memahami bahasa.

A. Deskripsikan bagaimana pengaruh bahasa pada anak-anak oleh imitasi, reinforcement/penguatan, analogi!

Imitation: anak-anak boleh menerima bahasa dan mencapai imitasi, tapi ini dapat membawa mereka dalam masalah. Mereka juga tidak pernah mengujarkan ujaran yang benar sama seperti yang diujarkan oleh orang dewasa. Jika meeka mengimitasi ujaran orang dewasa mereka harus mengujarkan sama seperti yang diujarkan oleh orang dewasa, di permulaan proses pembelajaran mereka.

Reinforcement: Anak-anak berbahasa dan mencapai reinforcement yang membantu mereka untuk memproduksi bahasa. Mereka memdapat itu dari orang dewasa mungkin orang tua ketika mereka mengujarkan bentuk yang benar. Reinforcement yang biasanya diberikan oleh orang tuanya tidak mengubah ujaran sang anak ke bentuk ujaran yang benar.

Analogy : anak-anak menerima bahasa oleh analogi. Contohnya ketika orang dewasa mengatakan “I will write a letter”, children say “I will write a picture”, atau “I will write in paper”. Ini mendekati tidak efektifnya kalimat terakhir yang tidak dapat diterima dalam bahasa Inggris.

B. Stages in Language acquisition
            Ada tiga stage dalam penerimaan(Fromkin, 1998,332)


Examples
One word stage
Single negative word
No
Kalimat pertama
Kata negative ditambahkan di permulaan kalimat
No want friend
Kalimat-kalimat sesudahnya
*unsur negative masuk diantara subjek dan predikat

* She no hate you
* I can’t hate you.


Anak-anak dapat memproduksi tuturan yang dapat dicirikan secara bahasa. Mereka dapat megujarkan 1 kata seperti maem/makan, mimik/minum, yang memiliki arti sama seperti makna yang disetujui oleh masyarakat pada umumnya.

C. Perbedaan Language learning dan language acquisition
language acquisition berarti bahwa ketika anak-anak menerima bahasa, mereka tidak sadar dengan aturan-aturan dalam rancangan kalimat, bahkan mereka tidak sadar membuat kesalahan-kesalahan. Namun mereka ingin menyadari bentuk yang benar atau yang diterima dan mereka dapat merasakan seperti apakah bentuk yang diterima.

Language learning/ pembelajaran bahasa adalah proses pembelajaran bahasa, itu biasanya dilakukan pada pendidikan firmal dengan kurikulum dan silabus yang pasti, dengan materi, waktu dan tempat, guru dan instruksi yang pasti. Pembelajaran bahasa adalah proses pembelajaran kedua. Pada proses ini anak memiliki bahasa asli mereka. Mereka memperoleh keuntungan dari pembelajaran pada bahasa kedua. Mereka juga mengalami kesulitan ketika mereka belajar bahasa yang tentunya berbeda. Ada factor-faktor tertentu yang mempengaruhi kesuksesan pembelajaran bahasa kedua seperti, umur, motivasi, keyakinan, dan kecemasan.

Sociolinguistics


Apa itu sosiolinguistik? Sosiolinguistik merupakan cabang ilmu linguistik yang bersifat antardisiplin yakni gabungan antara sosiologi dan linguistik ysng mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu dalam masyarakat.
A. Dialek adalah macam-macam bahasa yang dengan sistematik berbeda dengan yang macam-macam bahasa yang sama.
Contoh  Regional : Kowe ojo ngono maning.(Tegal)
                    Sosial : Kamu jangan kaya gitu lagi.

B. Style adalah dialek-dialek situai secara formal dan tidak formal.
      Contoh : Regional: gue lagi males nih.( orang Jakarta, bahasa informal)
                    Sosial : Ladies and gentlemen, welcome 2011. (formal)

C. Slang adalah ragam bahasa tidak resmi, dan tidak baku yang sifatnya musiman, dipakai oleh kelompok sosial terteentu untuk komunnikasi intern, dengan maksud, agar yang bukan anggota kelompok tidak mengerti. Contoh: kata bahasa Indonesia mobil dapat di ubah wujudnya menjadi bo'il, bolim, demobs atau kosmob. Truck : track, trailer.

D. Laras bahasa (bahasa Inggris: register) Ragam bahasa yang digunakan untuk suatu tujuan atau pada konteks sosial tertentu
Joos (1961) yang membagi lima laras bahasa menurut derajat keformalannya, yaitu (1) beku (frozen), (2) resmi (formal), (3) konsultatif (consultative), (4) santai (casual), dan (5) akrab (intimate).

1). Ragam beku digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan. Contoh: “Hakim memutuskan bahwa terdakwa dinyatakan bersalah”.

2). Ragam resmi digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato resmi, rapat resmi, dan jurnal ilmiah. Contoh: “Para hadirin yang saya hormati, dalam pidato kali ini saya akan membahas tentang kebersihan lingkungan.”

3). Ragam konsultatif digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar. Contoh:
Pembeli: Bu, tomatnya harganya berapa?
Penjual : Harganya Rp 15.000,00 Bu. Mau beli berapa kilo?
Pembeli : Saya tawar Rp 8.000,00 ya Bu, tapi saya beli 1 kilo.

4). Ragam santai digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab.
Contoh:  Ana: “Maaf, aku gag sengaja menjatuhkan bukumu”.
  Dina: “Oh iya gag apa-apa kok.”

5). Ragam akrab digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim.
Contoh : Ayah: “Bagaimana kuliahmu, Nak?”
              Anak : “Lancar,yah. Tumben ayah menanyakan kuliahku?”

E. Jargon adalah istilah khusus yang dipergunakan di bidang kehidupan (lingkungan) tertentu. Jargon biasanya tidak dipahami oleh orang dari bidang kehidupan yang lain. Misalkan "jargon komputer" berarti istilah-istilah yang berhubungan dengan komputer secara khusus dan hanya dipahami oleh orang-orang yang berhubungan dengan bidang computer. Contoh: RAM, bit, byte, CPU, and hardisk.

F. Code switching/shifting adalah alih kode Alih kode terjadi pada saat seseorang beralih kode dari satu kode atau bahasa ke kode atau bahasa lainnya. Faktor-faktor penyebab terjadinya alih kode antara lain penutur telah mengetahui
latar belakang lawan tuturnya sehingga penutur beralih kode untuk menunjukkan rasa
solidaritas dan identitasnya kepada lawan tutur dan adanya pemilihan topik dimana penutur memilih suatu bahasa yang tepat untuk digunakan.
 Contoh : “Innalillahi wa innalillahi rajiun. Saya dan keluarga turut berduka cita ya pak”(Pembicara beralih kode/ bahasa Arab ke Bahasa Indonesia)
           

G. Code mixing and language shifting adalah campur kode terjadi
saat seseorang mencampur elemen dari suatu bahasa (seperti kata, klausa, frase) ke elemen bahasa lainnya. faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode antara lain menunjukkan kemampuan penutur kepada lawan tuturnya karena penutur dapat menggunakan bahasa lain, menunjukkan rasa solidaritas dan identitas penutur, serta penutur hendak memberikan suatu maksud kepada lawan tutur.
Contoh:  2 orang Jepang sedang berkomunikasi
Tika : “Angger san, Konnichiwa. Ii tenki desune. If it doesn’t rain, I will go to your home”. ( Selamat siang Angger. Cuaca cerah ya. Jika tidak hujan, aku akan ke rumahmu).
Angger : “Konnichiwa. Soo desune.” (Selamat siang. Iya ya)

Kedua orang Jepang tersebut berbicara dengan bahasa Jepang, namun Angger mencampurkan kode/bahasa lain yantu Bahasa Inggris desertai Klausa kata keterangan/adverbial clause, “if it doesn’t rain.” Angger menunjukkan kemampuan penutur kepada lawan tuturnya karena penutur dapat menggunakan bahasa lain, menunjukkan rasa solidaritas dan identitasnya, serta penutur hendak memberikan suatu maksud kepada lawan tutur/tika.

Pragmatics


Apa itu pragmatik?
 Pragmatik adalah menyebutkan empat definisi pragmatik, yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara; (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya; (3) bidang yang, melebihi kajian tentang makna yang diujarkan, mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara; dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
(Yule (1996: 3)

A. Apa perbedaan Tindak Lokusi, illokusi, dan perlokusi? Beri 1 contoh masing-masing tindak! Menurut (Thomas 1995: 49).
      Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna,
      tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara, dan
tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan .
Contoh: Tindak Lokusi: my saying to you, “Don’t go into the water”.
                        Boss: “undercover? This is not your private army. Is she ok?
Daniel : “ she is good. In fact she spent half her childhood on a horse.”
Pada ujaran di atas terdapat beberapa lokusi, yaitu “under cover?” This is not your private army. Is she ok? (ujaran dari boss). Bentuk kalimatnya terdiri dari dua kalimat tanya dan satu kalimat negative.
Lokusi dari ujaran Daniel adalah she is good. In fact she spent half her childhood
on a horse.

Tindak tutur ilokusi, yaitu tindak tutur yang mengandung maksud berkaitan dengan siapa bertutur kepada siapa, kapan , dan dimana tindakan tutur itu dilakukan. Contoh: boss: “This is not your private room, don’t stay here, this is my room!”
Pada ujaran diatas terdapat tindak ilokusi yaitu penutur melarang untuk memerintahkan sesorang melakukan sesuatu untuk kepentingan pribadi si penutur.

Tindak tutur perlokusi yaitu tindak tutur yang pengujarannya dimaksudkan untuk mempengaruhi mitra tutur.
Contoh : daniel :”I’m telling you to go by bus”. Pada ujaran diatas terdapat tindak perlokusi yaitu penutur memerintahkan penutur untuk bekerja sesuai dengan aturan yang ada.

B. Prinsip kerja sama:  terjadi ketika penutur dan penutur lainnya berbicara dengan jujur, dalam topik yang sama, dan ujarannya tidak bermakna ambigu. Dalam prinsip kerja sama terdapat empat jenis maksim yaitu maksim kualitas, maksim kuantitas, maksim hubungan, dan maksim cara.
a.    Maksim Kuantitas
Penutur dikatakan mematuhi maksim ini apabila ia memberikan informasi yang dibutuhkan dengan tidak berlebihan atau kurang.
Contoh: A: What you name?
       B: My name is Tika.

(Ketika ditanya memberi jawaban secukupnya saja atau sebanyak yang dibutuhkan. Tidak perlu memberikan jawaban selain informasi tentang namanya, seperti alamat, umur,dll.)

b.    Maksim Kualitas
Penutur berbicara dengan jujur dan sesuai kenyataan yang ada.
Contoh: A : What is the capital city of Japan?
                               B: Tokyo. 
( B memang tahu harus menjawab Tokyo, hal tersebut tidak terbantahkan lagi, namun bisa saja terjadi kesengajaan , seorang penutur melanggar maxim ini. Hal itu tentu mempunyai maksud menimbulkan efek lucu).

c.    Maksim Hubungan
Segala yang diucapkan oleh penutur harus relevan dengan ujaran yang diucapkan sebelumnya.
Contoh: A: there’s somebody at the door. Open the door!
                        B: I am in the bath.

d.    Maksim Cara
Penutur dikatakan mematuhi aturan maksim ini apabila ia berbicara secara ringkas dan efisien serta menhindari ketidak-jelasan dan ambiguitas.
Penutur biasanya memang tidak mengharapkan lawan bicaranya mengetahui apa yang sebenarnya ingin ia utarakan.
Contoh: “Thank you chairman, just to clarify one point. There is a meeting on the police committee on Monday and there is an item in their budget for the provision of their camera.”

C. Prinsip kesopanan
a.    Maksim Kebijaksanaan
Maksim ini lebih fokus pada penutur yang mengatakan ujarannya dengan meminimalisasikan kerugian penutur dan memaksimalisasikan keuntungan bagi penutur. Contoh : “Would you mind answering the phone?”(Polite)
b.    Maksim Kedermawanan
Maksim kedermawanan fokus kepada penutur yang mengatakan ujarannya dengan meminimalisasi keuntungan untuk diri sendiri.
Contoh: “Would you like these pencil sharpened?”


c.    Maksim Pujian
Maksim ini meminimalisasi merendahkan penutur dan memaksimalkan pujian kepada penutur lain. Maksim ini sama dengan strategi kesopanan yang menghindari ketidaksetujuan dan kesopanan positif yang menunjukkan solidaritas.
Contoh: “Mark, you are very efficient and make “Mark, you are very efficient and make notes of everything, you must have copy of that websites address we were given today.”
d.    Maksim Kerendah-hatian
Meminimalisasikan pujian kepada penutur dan memaksimalisasikan merendahkan penutur.
 Contoh:
               A: You were so friendly to us.
               B: Yes, I was, wasn’t I?
e.    Maksim Kesetujuan
Meminimalisasikan ketidaksetujuan seorang penutur dan memaksimalisasi kesetujuan penutur.
Contoh:  A: A referendum will satisfy everybody.
                           B: yes, definitely
f.     Maksim Simpati
Meminimalisasi simpati antara penutur dengan penutur lainnya dan memaksimalisasi simpati antar penutur.
Contoh: “I am terribly sorry to hear that your grandfather died.”

       D. Deskripsikan tiga ekspresi deixis!
         Deixis merupakan acuan dengan cara ekspresi yang penafsiran adalah relatif extralinguistic     konteks dari ucapan, seperti
a)     yang berbicara
b)    waktu atau tempat berbicara
c)     gerak dari pembicara
d)    lokasi saat ini di wacana
         Contoh: Personal atau possessive pronouns (I, You, mine, yours)
            Demonstrative pronoun (this, that)
            Spatial/temporal) kata keterangan (here, there, now)
            Personal deixis ( you, us)
Spatial deixis (here, there)
Contoh: “I am over here.”